RF Transistor 2SC2782 Original atau Palsu

Saat ini banyak beredar RF Transistor 2SC2782 di pasaran. Yang saya tau ada 2 Type :

1) Pada marking TERDAPAT TITIK MERAH ( Ada yang bilang ini product yang PALSU)
2) Pada marking TIDAK TERDAPAT TITIK MERAH ( Ada yang bilang ini yang Original/ ASLI)

Gambar (1) Contoh 2SC2782 dengan dan tanpa TITIK MERAH

Dari contoh transistor diatas, kira kira yang mana yang OROGINAL dari TOSHIBA??? Selama ini saya cuman dapat info dari beberapa individual distributor yang menyatakan product yang tanpa titik merah adalah product yang ORIGINAL dan yang ada titik merah adalah yang PALSU.

Gambar (2) Contoh 2SC2782 Tanpa titik merah, dengan kaki pendek, dan bagian dalam emitor tumpul (lingkaran merah)

Gambar (3) Contoh 2SC2782 Tanpa titik merah, dengan kaki pendek, dan bagian dalam emitor lancip (lingkaran merah)

Saya mencoba tanya langsung ke Toshiba Semiconductor Corporation di  Shibaura 1-chome, Minato-ku, Tokyo 105-8001, Japan.

“Dear Toshiba Corporation’s Personal in charge,

I am mazzofa, one of customer/individual user of 2sc2782 transistor (VHF BAND POWER AMPLIFIER APPLICATIONS) in Indonesia. I have some questions about 2sc2782.

In Indonesia i have found some of kind of 2sc2782. There are three types of it.

1) With red dot marking (A)

2) Without red dot marking (B), Writing colour is pink or purple

3) Without red dot marking (C), Writing colour is red and yellowish

You can see the difference very clearly from this link :

http://1.bp.blogspot.com/_0YotTGkNc-4/S5-GQFFXoPI/AAAAAAAAAmQ/wNnmaO_v7jY/s1600-h/DSC01162.jpg

Beberapa contoh jenis 2sc2782 * Mana Yang ASLI ?? *

I have got information that from three of kind of the transistor.

The ordinal quality from the LOWEST to the HIGHEST quality is 1, 2, 3.

So, because of it, i want to get the truly information from TOSHIBA corporation about the product. I want to get some information, whether toshiba truly produces more than 1 type of 2SC2782 with some level of quality or not.

If you truly produce more than 1 type of 2SC2782, please give me the specifications of three or more of 2SC2782.

You may send me the truly datasheets to my email, with the PICTURE with marking of it, as i have sent to you the picture above ( I mean the link above). You may share to me, how much the price of it ?

I think it’s enough to help me to overcome my confusion about 2sc2782 which spread at some seller In Indonesia, especially in Surabaya. Thank you very much

Regards

Mazzofa

Tapi dari pertanyaan saya diatas sampe sekarang belum ada jawaban dari Pihak Toshiba. Kira2 ada kawan kawan yang bisa bantu untuk membuktikan ORIGINALITY 2sc2782. kasih comment ya..

Gambar (4) Contoh 2sc2782 tanpa titik merah (kaki agak panjang)

Gambar (5) Contoh 2sc2782 dengan titik merah

Dari beberapa artikel yang saya baca, ada juga yang memberikan info bahwa yang mengandung titik merah itu sudah RoHS compliant (memenuhi standard RoHS). Sedangkan yang tanpa titik merah itu tidak memenuhi standard RoHS. Tapi dari sisi karakter sebenarnya sama. Tapi saya sendiri blm pernah membandingkan kualitas keduanya dengan mencoba secara langsung.

Maksudnya apa RoHs Compliant itu ??Apa hubungannya dengan keamanan dari produk atau peralatan electronics ?

Tahun 2006 yang lalu saya pernah bekerja dibagian PRODUCT ENGINEER, PT OMRON MANUFACTURING OF INDONESIA (OMI), ( Japan Electronic Devices) di Bekasi, dengan product utamanya adalah Relay (LY1, LY2, LY2N, LY3, LY4), Contactor, Timer, Limit switch dengan merk OMRON. Kalo PLC omron diproduksi langsung di JEPANG (OER).

Dari situ saya sedikit tau tentang yang namanya RoHS compliant. Sebelum saya bekerja disitu semua marking product tidak terdapat marking RoHS. Kemudian karena Product kita harus mengikuti regulasi yang di terapkan diberbagai negara terutama Eropa, maka saya harus menambah marking RoHS di Case/Cover Relay tersebut dengan AutoCAD.

Ne contoh case drawing yang tanpa RoHS

Case of Relay Without RoHS Marking

Secara bahasa RoHS merupakan singkatan dari Restriction of the use of certain Hazardous Substances yaitu sebuah perlarangan atau pembatasan penggunaan beberapa zat atau bahan berbahaya. Isu tentang penggunaan zat-zat berbahaya sebenarnya sudah ramai dibicarakan oleh negara-negara Uni Eropa, hal ini terkait dengan banyaknya penyakit yang timbul dan pencemaran lingkungan oleh limbah-limbang peralatan elektronik dan listrik. Sehingga pada tanggal 27 Januari 2003 parlemen Uni Eropa mengeluarkan kebijakan tentang RoHS yang ditulis dalam DIRECTIVE 2002/95/EC dan tentang penanganan limbah peralatan elektronik dan listrik atau WEEE (Waste from Electrical and Electronic Equipment) dalam DIRECTIVE 2002/96/EC.

Kebijakan-kebijakan tersebut memiliki tujuan melindungi kesehatan manusia dan lingkungan dan menata ulang pemakaian zat-zat berbahaya dalam produk elektronik dan listrik. Kebijakan itu sendiri mengatur tentang pelarangan penggunaan zat-zat berbahaya ”diawal siklus produk” dalam produk elektronik dan listrik. Pernyataan ”diawal siklus produk” memiliki makna bahwa penerapan kebijakan RoHS Compliance dilakukan mulai dari tahapan perencanaan desain produk. Perlu diketahui bahwa secara umum untuk memproduksi suatu jenis produk, misalnya: Notebook (laptop), printer, flashdisk, dan lain sebaginya akan melalui tahapan proses perencanaan desain produk yang meliputi: pemilihan material, penentuan dimensi produk, standar proses manufaktur, studi kelayakan dan lain sebagainya.

Setelah melalui tahapan-tahapan tersebut, kemudian dilakukan uji coba produk untuk dilakukan IPQ (Initial Part Qualifying) yaitu pengukuran 100 persen dimensi berdasarkan drawing serta pengecekan kelengkapan dokumen yang diperlukan sebelum masuk ke tahapan pre-production dan mass production. Setelah dikeluarkannya kebijakan RoHS Compliance, tahapan pemilihan material merupakan tahapan prioritas utama sebelum masuk ke tahapan produksi. Pada DIRECTIVE 2002/95/EC article 4.1 menyatakan bahwa mulai tanggal 1 Juli 2006 seluruh peralatan elektronik dan listrik baru yang beredar di pasar Eropa harus terbebas dari kandungan zat-zat berbahaya (RoHS). Zat-zat berbahaya yang dimaksud dengan RoHS (atau di Indonesia dikenal dengan logam berat ) sebagaimana yang tertulis dalam directive tersebut antara lain: Lead/Timbal (Pb), Cadmium (Cd), Mercury/Air Raksa (Hg), Hexavalent Chromium (Cr(VI)), Polybrominated Biphenyls (PBB), dan Polybrominated Diphenyls Ethers (PBDE). Tetapi kebijakan ini mendapatkan reaksi keras dari kalangan industri yang selalu mengekspor peralatannya ke Uni Eropa karena tidak mungkin menghilangkan 100 persen penggunaan zat-zat tersebut, sehingga pada tanggal 19 Agustus 2005 dilakukan amandemen terhadap kebijakan tersebut. Kebijakan yang baru menetapkan batas nilai konsentrasi maksimum yang diperbolehkan untuk Pb, Hg, Cr(VI), PBB, dan PBDE adalah 1000 ppm, sedangkan Cd 100 ppm.

Pelarangan penggunaan zat-zat berbahaya dalam produk elekronik dan listrik secara berlebih bukan hanya berdasarkan dampak pada perusakan lingkungan saja terlebih dikarenakan banyak penyakit berbahaya yang muncul karena tubuh manusia terkontaminasi dengan zat-zat tersebut. Penyakit-penyakit yang bisa timbul diantaranya: kanker, ginjal, kerusakan jaringan tubuh secara permanent, iritasi usus, hati, kerusakan saluran metabolik, hipertensi darah, hiperaktif, kerusakan otak, lumbago, kerusakan tulang karena tulang menjadi lunak dan keracunan kronis.

Melihat banyak sekali penyakit-penyakit berbahaya yang timbul akibat terkontaminasinya tubuh dengan zat-zat berbahaya tersebut, maka kebijakan yang tertulis dalam DIRECTIVE 2002/96/EC tentang WEEE mengkatagorikan apa saja produk-produk elektronik dan listrik yang harus memenuhi ketentuan RoHS. Produk-produk tersebut antara lain: peralatan besar dan kecil rumah tangga (House hold), telekomunikasi dan teknologi informasi, peralatan hiburan, penerangan, perkakas listrik dan elektronik, peralatan olah raga, mainan anak-anak, dan dispenser otomatis.

Batam sebagai salah satu pulau yang memiliki kawasan industri terbanyak dan terbesar di Indonesia memiliki kepentingan dalam memfasilitasi kebutuhan industri dalam pengujian RoHS dan mensosialisasikan besarnya dampak penggunaan alat yang belum lolos uji ini terhadap kesehatan. Kepentingan ini juga dilatarbelakangi bukan saja karena banyak produk-produk yang dipersyaratkan RoHS diproduksi di Batam tetapi lebih dikarenakan mulai banyaknya negara-negara yang mengadopsi kebijakan yang dikeluarkan oleh Uni Eropa tersebut, di antaranya Jepang, Cina, Korea, Amerika dan lain sebaginya.

Dengan semakin banyaknya negara-negara yang mengadopsi kebijakan ini, berdampak pada semakin banyak industri di Batam mulai melakukan dan memprioritaskan pengujian RoHS terhadap produk-produknya. Selama ini, sebagian besar dari industri di Batam selalu melakukan pengujian RoHS ke Singapura dan Malaysia mengingat belum adanya laboratorium pengujian ini di Batam. Untuk memfasilitasi agar mereka tidak melakukan pengujiannya ke luar negeri sehingga bisa menekan biaya pengujian, Departemen Perindustrian Republik Indonesia bekerjasama dengan Otorita Batam dan Politeknik Batam mendirikan sebuah laboratorium pengujian RoHS yang berlokasi di Politeknik Batam.

Untuk kepentingan pengujian ini, sejumlah peralatan analisis dibutuhkan antara lain: X-Ray Fluorescence (XRF), Atomic Absorption Spectrometer (AAS), Gas Chromatography/Mass Spectrometer (GC/MS), dan Ultra Violet/Visible Spectrophotometer (UV/VIS). Alat-alat tersebut bisa digunakan untuk menguji secara kualitatif dan kuantitatif terhadap zat-zat yang terkandung dalam material produk/komponen yang dibuat.

6 responses to this post.

  1. Posted by Bedjo on June 11, 2010 at 11:09 am

    Iseng-iseng saat main ke workshopnya teman yg teknisi radio, saya lihat ada beberapa bangkai 2SC2782. Saya tanya kebeliau ” ini sdh tdk terpakai ? ” jawab dia “tidak”.

    Lalu saya minta dia komentar dari beberapa sample transistor tsb yg sdh tdk terpakai, lalu saya minta dia bilang mana yg asli dan bukan.
    Dia cari dan sodorkan ketemu yg katanya ASLI, dan yg BUKAN.

    Lalu saya ambil botol kecil y berisi tener, saya celupkan sedikit jari telun juk saya, dan saya gosok jari saya tepat pada tulisan toshiba yg berwarna merah ke 2 transistor tsb.

    Saya dia bilang asli, saat saya gososng tulisannya tdk mudah luntur meski beberapa kali saya gosok-gosok.

    Yang di bilang bukan asli, saya gosok sekali, tuh tulisan warna merah langung pudar dan hilang.

    Itu saja yg saya cek. kondisi ke 2nya lupa apakah ada titik/tidak.

    Reply

    • Posted by mazzofa on June 13, 2010 at 3:32 am

      Sebelumnya juga ada yang kasih comment seperti Om Edi, menurut saya masuk akal juga karena sebuah company yang mengacu standard SOP tentunya tidak akan main main dengan product mereka. Kecuali
      ada perusahaan yang ingin menggunakan nama sebuah brand yang sedang laku untuk mengeruk keuntungan. sehingga bahan marking product mereka juga asal aja.

      Repotnya untuk yang ada titiknya atau tidak untuk yang asli atau palsu itu saya juga punya datasheet dua duanya Om, repot juga yah.. saya punya yang ada titiknya itu, saya coba dan hasilnya juga OK, tp blm pernah dikasih tiner se. dan yang blm pernah coba yang tanpa titik. dan yang jelas di pasaran yang tanpa titik dijual sedikit lebih mahal.

      Reply

  2. Posted by yustina ernawati on March 6, 2012 at 5:51 am

    dear mr massofa. om aku pake anten bumer 13elemen buatan sendiri yg mau aku tanyain kenpa kok pacarannya bagus di frek 146.300 dr pada di 144.500 padhal swrnya sm2 1:1.1 kl aku tes pake field strenght mm beda jauh kuat medannnya yg di 146 bs diangka 2 sdg di 144 cuma 0.4 dg jarak anten dg fs sama. trs bgman caranna spy di frek 144 kuat pancarnya bs sekuat di 146 apa yg hrs aku rubah. tlg dong om massofa ksh caranya. tks sblmnya. salam

    Reply

    • Posted by yayan sopyan on January 12, 2013 at 5:14 am

      Biasanya itu tergantung dari pesawatnya juga, pada frekuensi-frekuensi tertentu kadang-kadang watnya cukup tinggi, tetapi pada frekuensi tertentu bisanya agak lemah. Contoh, jika menggunakan frekuensi 144.000 kemudian masuk frekuensi 150.000 biasanya lebih kuat di frekuensi bawah (144.000), kalau mau kuat di frekuensi tertentu, maka pesawatnya harus di set di frekuensi tertentu, tetapi ini beresiko, karena pabrik sudah mendesain frekuensinya sebagus mungkin. Tetapi ada pengalaman lain, jika pada awal pembelian (pesawat masih baru) terus digunakan secara continue di frekuensi tertentu maka watt yang keluar selalu stabil.
      Jadi saran saya, gunakanlah 1 frekuensi saja, jangan terlalu banyak menggunakan frekuensi karena berpengaruh pada pancaran dan final transistornya.
      Wassalam.

      Reply

  3. keren, banyak info berguna disini,

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: