Power Divider Vs T Connector

Gambar 1) Phasing Harness digunakan jika Kita pake T connector ( Gunakan 75 Ohm Coaxial Cable)

Gambar 2) 1 Input 4 Output Power Divider (Gunakan 50 Ohm Coaxial Cable)

Gambar 1) 1 Input 4 Output Power Divider (Gunakan 50 Ohm Coaxial Cable)

Gambar 4) 1 Input 4 Output PD 1/2 Lambda (Gunakan 50 Ohm Coaxial Cable)

Antara PD dan T Connector secara fisik memang beda, tapi secara fungsi sama saja, yaitu sebagai pembagi RF power dari 1 Tx ke 2 antenna atau lebih, yang SE IDENTIK atau se tipe. tapi biasanya PD digunakan oleh rekan2 yang suka maen broadcasting.

Jika T connector biasanya sering digunakan oleh rekan2 yang suka bilang JAGO JAGO JAGO STOPPP…. HOPPPPPP……!!!! Hehehe… Tapi juga ada yang menggunakan PD, seperti yang sering dipake untuk broadcasting system.

Method for feeding a stacked Yagi Array

Kalo Pada T connector mengapa menggunakan coax 75 Ω, alasannya begini, uraian diatas sebenarnya sudah ada, cuman ga disebut 75 Ω nya dan kurang detail juga.

Untuk Memfeet/ menggabungkan/ Menstack 2 Antenna yang sejenis dan masing-masing 50 Ω, dengan menggunakan kelipatan ganjil ¼ Lambda x VF coaxial cable 50 Ω secara pararel maka akan didapatkan impedansi 25 Ω (50//50 = 25 Ω). Kemudian nilai impedansi coaxial yang digunakan sebagai Phasing line atau impedance transformer adalah = akar (50×25) = 35.35 Ω. Jadi kita membutuhkan coaxial cable dengan nilai impedansi sebesar 35.5 Ω. Caranya bisa dengan mempararelkan 2 coaxial 75 Ω (75//75=35.7 Ω mendekati 35.5 Ω). Tapi repotkan jika mempararel 2 coaxial 75 Ω

Cara lain yang biasa digunakan adalah dengan menggunakan Power Divider (PD), 1 input 2 Output. Cara agar PD 1 input 2 output bisa digunakan sebagai transformer 25 Ω ke 50 Ω, dibutuhkan Impedansi 35.5 Ω. Ada sedikit formula buat pendekatan.

Jarak antara connector input dengan connector output ¼ Lambda x 0.95. Nilai Impedansi yang dihasilkan tergantung RASIO antara Diameter luar konduktor luar (D) terhadap Diameter luar inner konduktor dalam (d). Nilai Impedansi yang terbentuk adalah Zo= 138 Log (1.08 * (D/d)).

Misal D=25 mm dan d=15mm, maka Impedansinya, Zo=138 Log(1.08*(25/15))= 35.23Ω, mendekati 35.5 Ω. Dan PD siap digunakan sebagai impedance transformer dari 25 Ω ke 50 Ω menuju Tx melalui Feed Line 50 Ω. Nilai D dan d bisa disesuaikan dengan di coba2 dihitung agar Nilai impedansinya ketemu mendekati 35.5 Ω dan bahannya juga mudah didapet dipasaran.

Berikut adalah Tabel impedansi yang di dapat jika menggunakan ratio seperti di bawah :

Gambar tentang PD, baik yang 1 input 2 out, maupun yang 1 input 4 out, bahkan ada juga yang 1 input 6 output ( yang 6 blm ada), ini ada di blognya Om Ahim disini :

http://www.geocities.com/inoor_9000/pages/Galeri10.html

Penggunaan diatas jika menggunakan coaxial 50 Ω sebagai Phasing Line dari masing masing Antenna kiri dengan kanan, atau atas dengan bawah dengan Power Divider System.

Akan tetapi jika kita mempergunakan kelipatan ganjil ¼ Lambda x VF, dengan Coaxial 75 Ω sebagai Phasing Line/Phasing harness. Dan menggunakan T connector, Berikut penjelasan dan alasannya.

Fungsi dari phasing line kelipatan ganjil ¼ Lambda x VF, coaxial 75 Ω adalah untuk mentransformasikan/menaikkan feed impedance Antenna 50 Ω ke impedansi 100 Ω, setelah terbentuk nilai impedansi 100 Ω. Kita koneksikan antara phasing line kiri dan kanan ke T Connector secara pararel, sehingga menghasilkan impedansi 50 Ω seperti semula (100//100=50 Ω) seperti yang kita inginkan. Dan siap di feed line dengan coaxial 50 Ω menuju Tx.

Kenapa harus 75 Ω ??????

Ceritanya begini neh, untuk mentransformasikan dari 50 Ω (Antenna) ke 100 Ω maka nilai impedansi phasing line yang dibutuhkan adalah Zo = Akar (50*100)= 70.71 Ω. Jadi kita membutuhkan coaxial kabel dengan nilai impedansi 70.71 Ω.
Dibawah adalah contoh antenna yang mengunakan phasing line dengan kabel 75 Ω, Belden 9292.

Akan tetapi coaxial cable dengan nilai impedansi 70.71 Ω IS NOT AVAILABLE alias SUSAH, bahkan mungkin tidak ada dipasaran. Sehingga kita ambil pendekatannya dengan memanfaatkan coaxial 75 Ω sebagai gantinya. kira kira demikian Rekan rekan Hombrewer semua.

CMIIW..

Baca Juga : 

11 responses to this post.

  1. Posted by Ageng on April 23, 2010 at 2:16 pm

    Kalo pake kabel 50 ohm, panjangnya berapa lambda???

    Reply

  2. Posted by bejoslamet on December 10, 2010 at 2:38 pm

    Aku punya boomer 4 lembar, 13 elemen, menggunakan PD 4 ways tp tubingnya pake aluminium segi 4.PD tsb input di bawah outputnya 4 diujung jadi bukan spt ganbar diatas , input ditengah terus output pada kiri kanan tubing.
    Menurut anda pembuatan PD 4ways dgn cara diatas sudah benar belum, dan apa bedanya jika menggunakan tabung kuningan.
    Apa kelebihan dan kekurangan pemakaian PD dibanding Phasing line dgn sisitim T konektor ?
    Tolong minta skema ukuran Phasing line untuk boomer 4 lembar.
    Sebelumnya terima kasih boss.

    Reply

    • Pada gambar diatas sudah ada cak bejo, coba lihat gambar kedua dari atas “(Gambar 2) 1 Input 4 Output Power Divider (Gunakan 50 Ω Coaxial Cable))” itu 1 input (ujung kanan) dan 4 output (ujung kiri)

      Cara pembuatan PD 4 ways seperti itu sudah benar, yang mungkin sulit itu adalah antara rumus dan prakteknya yang banyak bedanya ntar. jadi mungkin begini, secara perhitungan logaritma sudah benar nilai impedansi PD 25 ohm, karena untuk mentransformasikan impedansi dari 12.5 Ω (50Ω // 50Ω // 50Ω // 50Ω = 12.5 Ω) menuju 50 Ω dibutuhkan impedansi saluran (PD) sebesar 25 Ω. tapi setelah diimplementasikan berbeda hasilnya. Jadi perlu kesabaran dan adjust ratio antara D dan d agar impedansi bisa 25 Ω persis.

      Untuk perbedaan PD & T connection secara umum sudah saya jelaskan diatas. Akan tetapi perbedaan dalam penggunaannya adalah terletak pada kemampuan memikul daya dari pemancar. dibawah merupakan analisanya.

      Pada T connector kabel 75 Ω itu hanya tipe Coaxial, RG 11 belden 9292 yang paling besar kemampuan hantar arusnya (mungkin untuk maksimum power continue sekitar 400-600 Watt aja), lebih besar dari itu sudah tidak mampu dan jarang ada kable 75 Ω diatas RG 11 (bahkan mungkin tidak pernah diproduksi). Sehingga jika ingin digunakan untuk power besar,10 kW (10000 Watt) misalnya, sudah jelas kabel tersebut akan rusak.

      Sehingga dipake’lah kabel 50 Ω dengan sistem PD karena kemampuan menghandle power jauh lebih besar, seperti Coaxial Heliax Andrew LDF 4, LDF 5, LDF 7, dan masih banyak diatasnya lagi yang punya kemampuan hingga diatas 20 kW pun bisa. itu kelebihan jika menggunakan PD kemampuan hantar arusnya jauh lebih tinggi, karena apa?? ya karena kabel 50 Ω banyak macamnya dan banyak yang mampu untuk power besar, tinggal kemampuan antenna kita aja, sama connectornya pun juga harus bagus juga, jangan sampai meleleh (orang surabaya bilang ledder).

      Kalo masalah kuningan ( Copper/tembaga) akan lebih bagus daya hantarnya (rugi2 kecil). Tapi pesan saya sekalipun pake tembaga, impedansi juga tetep harus diperhatikan (matching impedancenya) dengan kebutuhan. sehingga tidak mengurangi performa dari PD.

      Untuk ukuran skemanya Cak bejo bisa menghitung sendiri rumus diatas sudah lengkap sekali, dan ada contohnya juga untuk 2 ways. kapan2 coba saya hitungkan. skr repot di project.

      Blog sudah saya update dengan saya tambah tabel ukuran ratio D dan d, Dibawah adalah perhitungan untuk PD 4 ways, coba lihat pada tabel Impedansi PD (Zt (Zo)) yang nilainya mendekati 25 Ω (impedansi PD) di dapatkan paling mendekati adalah 25.2 Ω. sehingga ratio d Vs D adalah :

      D = 31 mm
      d = 22 mm

      sehingga berdasarkan rumus :

      Zo= 138 Log (1.08 * (D/d))

      didapatkan :

      Zo = 138 x Log (1.08 x (31/22))
      = 138 x log (1.08 x (1.409))
      = 138 x log (1.5218)
      = 138 x (0.18236)
      = 25.166 Ω ==> nilai impedansi PD.

      Untuk prakteknya biasanya ada sedikit deviasi/penyimpangan dengan perhitungan. sehingga untuk mengadjust , siapkan tabung yang lebih kecil atau lebih besar baik. tergantung deviasinya keatas ( impedansi PD terlalu besar) atau ke bawah (impedansi PD terlalu kecil). untuk Konstruksinya lihat gambar diatas D dan d yang saya lingkari merah.

      Semoga bisa membantu Cak Bejo. CMIIW

      Reply

      • Posted by bejoslamet on December 11, 2010 at 5:17 pm

        Mantab Bro,atas infonya.
        Oh ya, antena boomerku saat ini sedang diturunkan untuk di setting ulang.
        Untuk balun dan phasing line aku mempergunakan kabel baru.
        untuk balun mana kabel terbaik antara pake belden 9292,(tp serabut outernya kok sedikit sekali, ada foam) beda dgn RG 11,atau Belden 9913.
        Dengan mencontoh dimensi boomer cushcraft aslinya, hanya balun saja yg berbeda.Kira2 panjang kabel untuk membuat balun tsb brp Cm.Jika mempergunakan belden 9292, RG 11U, Belden 9913. Dengan center freq 143.920MHz. Menurut anda dr ketiganya mana kebel yg terbaik untuk membuat balun tsb.
        Dengan posisi sorting bar sekitar 12cm atas bawah, sdh benarkah jarak tsb ? dgn asumsi apabila swr belum 1:1,1 maka masih ada toleransi setting cross bar kira kira 1cm atau lebih.
        Pada saat setting ke 4 boomer tsb apakah perlu di matching satu persatu ataukah cukup memakai 1 antena saja yang menjadi acuan, kemudian yg 3 lainnya mengikuti antena yg pertama . Misal antena pertama Swr nyender, terus ukuran jarak cross bar dan balun lainya hanya mengikuti saja ataukah perlu diset satu persatu.
        Pembuatan dan pengukuran serta bahan keempat antena tsb sama persis identik, mungkin 99%.
        Kemudian untuk phasing line memakai belden 9913 butuh kabel berapa meter,set freq 392 sebelum nantinya diumpan ke PD 4 ways,. Demikian Bro mohon saran dan pencerahannya, Makasih sebelumnya.

  3. Posted by aminin on December 11, 2010 at 1:21 am

    sippp

    Reply

  4. Kalo Balun saya sarankan untuk kabel 50 Ohm, karena kabel feed line kita juga 50 Ohm, mengikuti impedansi Tx yang juga 50 Ohm. Antara Tx, Feed line, dan Antenna, ketiganya harus Matching sehingga tidak terdapat reverse power yang mengakibatkan kondisi yang disebut Mis match (SWR tidak 1:1 )

    Sebagai informasi Belden 9292 itu juga RG11, sebagaimana sudah saya jelaskan di blognya pak win, Belden 9292 itu adalah jenis RG 11 dengan type (Cable Number) adalah 9292, jd jangan salah pengertian. sama seperti motor, jenisnya honda typenya supra, megapro, tiger dsb.

    Untuk balun antenna yang simetris (balance) sekitar 200 Ohm, kan di gunakan balun 4:1, artinya antenna yang kita gunakan sudah balance dan feed line yang digunakan tdk balance (unbalance) sehingga dari 200 Ohm impedansi diturunkan menjadi 50 Ohm (200/4=50 Ohm) unbalance, disesuaikan dengan feed linenya yang tdk balance dengan rumus yang sederhana. Untuk kabel RG 8 yang velocity terbaik adalah belden 9913 (0.84) dimana balun tersebut panjangnya 0.5 lambda dengan rumus :

    Panjang Balun = (300/frek)*0.5* Vf

    Jika pada frekuensi 143.92 MHz, maka

    Panjang Balun = (300/143.92)*0.5*0.84
    = 0.8755 m
    = 87.55 cm

    Pada saat mengematchkan, belum tentu juga dengan ukuran kabel hitungan diatas akan langsung ketemu titik matchingnya, karena matching antenna dipengaruhi banyak factor, diantaranya Balun. konstruksi Shorting Bar, panjang selubung i, jarak antara selubung i dengan driven element, jarak antar ujung selubung i atas dan bawah. Jadi untuk adjustment bisa diatur melalui komponen2 tersebut.

    Komponen tersebut berpengaruh besar terhadap nilai impedansi. Sedangkan yang berpengaruh terhadap daya pancaran lebih didominasi oleh pengaturan spasi sama panjang tiap2 elements.

    Untuk proses mencari titik matching ke empat2nya harus sama. parameter yang diambil adalah 1 antenna dicari titik matching dulu, yang ketiga baru mengikuti dibelakang, identik. Setelah itu gabung keempat2nya dan cari titik matchingnya lagi dengan catatan konstruksi antenna harus sama. Dalam artian, jika shorting bar antenna yang satu digeser keatas 1 cm yang lain juga harus mengikuti untuk menghindari ketidak balance_nan keempatnya.

    Untuk cable phasing line gunakan Multiple odd 1/4 lambda dikalikan Velocity factor ( Vf ), bisa 1/4 lambda, 3/4 lamda, 5/4 lambda, 7/4 lambda, 9/4 lambda dst.

    Misal frek 143.92 MHz, dengan panjang 9/4 lambda, menggunakan kabel RG8 Belden 9913 dengan Vf = 0.84 :

    Panjang PL = (300/143.92)*0.25*0.84*9
    = 3.9396 m = 393.96 cm

    Demikian semoga membantu, CMIIW

    Salam

    Reply

  5. Posted by bejoslamet on December 12, 2010 at 3:20 am

    Saat sekarang sedang uji coba setting antena dan yang pasti hasil penghitungan balun secara teori nyaris persis sama dengan hasil praktek lapangan( selisih bbrp mm saja )Luar Biasa, dengan ujicoba potong sedikit demi sedikit. Makasih banyak Bro atas infonya.
    Sebuah web blog yang sangat informatif dan bermanfaat. Salut

    Reply

  6. Sekedar share Mas,Q sudah membuat antena Boomer 2×13 dengan panjang Boom msng2 6,80 M,menggunakan Balun 75 ohm LDF 4-75 Inner tunggal dengan Panjang total 72,55 Cm,ketika sy Matching 1 persatu dng MFJ 292 maka antena nyender di 143.150 Mhz,lalu sy mencoba menggabungkan 2 stage dengan Phasing 50 ohm dengan panjang 2 x 43,52 Cm type Cable LDF 4-50 ohm menggunakan T Connector N type semula dr kabel Phasing berukuran 5M sy potong untuk mencari matching nyender tinggal 43,52 cm maka Freq yg saya dapatkan 143.120 mhz intinya ǨªƖ☺ bikin dan matching antena kudu Sabar dan Alat pendukung lengkap,sekarang antena ini bisa dibebani dng 4,1Kw sehingga sy bisa memenangkan Tracking. Semoga bermanfa’at Salam Inovasi tiada henti

    Reply

  7. Ternyata masih banyak penggemar 2 meteran homebrewer antenna kirain udah pada punah

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: